Budak Senior dan Boneka Pejabat, Sisi Gelap Organisasi Eksternal Kampus

Sumber: X @komikkitatweet

SUDUTPLAMBON.COM-Mahasiswa tentu tidak asing lagi dengan yang namanya organisasi. Keberadaan organisasi mahasiswa di dalam lingkungan kampus memiliki tujuan untuk dapat meningkatkan soft skill mahasiswa dan meningkatkan jiwa kepemimpinan. Namun mirisnya, keberadaan organisasi malah merusak citra mahasiswa dan membawa dampak negatif untuk mahasiswa maupun kampus. Benarkah demikian?


Sebelum bahas lebih lanjut, saya ingin mengajak kita mengklasifikasi dulu organisasi kampus. Pertama ada yang namanya organisasi intrakampus seperti BEM, HMPS, HMJ, DPMF, dan UKM. Kedua ada yang namanya organisasi ekstrakampus, saya tidak perlu menyebutnya satu per satu takutnya ada yang tersinggung karena pembahasan dalam artikel ini sedikit sensitiv lantaran ingin menyoroti sisi gelap organisasi ekstrakampus yang saya kaji secara menyeluruh.


Secara umum, organisasi ekstrakampus ini merupakan organisasi pergerakan mahasiswa yang biasanya memiliki ciri khusus dengan berpegang kepada nilai-nilai Agama maupun ideologi tertentu. Organisasi ekstrakampus secara struktural tidak tergabung ke dalam struktur dalam kampus. Misalnya, kalau organisasi intrakampus biasanya bertanggung jawab kepada pejabat kampus seperti ketua prodi, ketua jurusan, wakil dekan  maupun wakil rektor bidang kemahasiswaan. Akan tetapi organisasi ekstrakampus tidak.

Lantas, apa yang menjadi sisi gelap dari organisasi ekstrakampus?

Opini yang dibuat ini berdasarkan pengamatan pribadi penulis terkait keberadaan organisasi ekstrakampus selama penulis menjadi mahasiswa. Selain itu, pandangan penulis juga diambil dari hasil diskusi yang dilakukan selama ini dengan teman-teman yang tidak tergabung dengan organisasi ekstrakampus maupun mereka yang terlibat didalam organisasi ekstrakampus


Sebenarnya selama menjadi mahasiswa, penulis sangat aktif dengan organisasi mahasiswa, jadi penulis paham betul bagaimana watak dan karakter mahasiswa yang ikut organisasi. Satu kata yang mewakili para mahasiswa terhadap keberadaan organisasi eksternal adalah “muak”. Bukan berlebihan, namun memang demikian, eksistensi dan keberadaan organisasi ekstrakampus sudah membuat muak banyak mahasiswa, karena penyebabnya adalah sering membuat huru-hara ibarat ormas pengacau yang selalu bikin resah masyarakat.


Sumber:  [Suara.com/Ema Rohimah]

Mereka yang tergabung kedalam organisasi ekstrakampus biasanya memiliki nafsu dan ambisi yang tinggi untuk menduduki posisi didalam struktur organisasi intra kampus. Jika keinginan mereka tidak terpenuhi, mereka biasanya membuat dinamika dengan cara-cara yang tidak beretika; siapapun akan mereka sikat termasuk pejabat di lingkungan kampus.


Biasanya pejabat dalam lingkungan kampus takut kepada mereka, karena jika macam-macam, biasanya mereka akan melakukan aksi demonstrasi untuk menggoreng-goreng permasalahan si pejabat tersebut. Misalkan, memainkan isu dan propaganda terkait kasus korupsi si pejabat kampus.


Namun, mereka juga bisa disetir. Jika pejabat kampus merupakan senior mereka, biasanya ketika uang sudah masuk ke pimpinan organisasi mereka maka mulut-mulut mereka dibungkam. Kemudian mereka akan paling depan membelah si pejabat tersebut.


Semacam ada ambisi yang berlebihan bagi mereka untuk menguasai struktur organisasi intra kampus. Berbagai cara akan mereka halalkan untuk mendapatkan posisi tersebut. Padahal, kebanyakan figure yang didorong mereka untuk maju bukanlah orang yang memiliki kualitas akademik yang mumpuni; akan tetapi entah dari mana kriteria mereka melihat sosok figure tersebut. Biasanya adalah mereka yang jago komat kamit alias bicaranya bagus yang sering kali di jadikan sosok figur untuk bertarung untuk menduduki jabatan di dalam organisasi mahasiswa.


Kedapatan ada yang jago retorika ketika menjadi pemimpin organisasi intra kampus tapi nyatanya memiliki kualitas otak yang kosong alias sering bolos kelas dan nilai-nilai yang jelek. Selain melihat rekam jejak seorang dalam memimpin organisasi di kampus, juga harus melihat latar belakang akademik mahasiswa tersebut. Bagaimana dia mau memperjuangkan mahasiswa lain, sedangkan dirinya saya tidak bias diperjuangkan untuk dapat memiliki nilai yang memuaskan di kelas.


Karena jika ingin menduduki posisi sebagai pemimpin di organisasi intra, tentu ada standar indeks prestasi. Bukan hanya itu, akibat indeks prestasi yang rendah dan jarang masuk kelas, akibatnya kita sering menemukan kebanyakan anak organisasi unjung-unjungnya jadi mahasiswa abadi. Persoalan ini yang kemudian membuat mahasiswa ogah masuk organisasi karena citra buruk telah dibangun oleh segelintir oknum.


Ambisi dan Nafsu mereka yang tergabung dalam organisasi eksternal untuk menduduki posisi di organisasi intra secara umum memiliki dua motivasi besar. Pertama, terkait dengan ingin untuk menunjukkan eksistensi dan keberadaan mereka di dalam lingkungan kampus, ibaratnya seperti partai politik yang harus menguasai posisi-posisi strategis di pemerintahan dengan motivasi kedua, yakni agar kepentingan-kepentingan mereka dapat terakomodir di dalamnya.

Jadi Budak Senior

Senioritas di dalam organisasi ekstrakampus sangatlah kental, seperti yang sudah saya bahas di atas, mereka akan selalu tunduk kepada senior apalagi senior yang memiliki posisi strategis dalam kampus maupun di pemerintahan. Hal ini kemudian dimanfaatkan para senior untuk menjadi organisasi ekstrakampus sebagai kendaraan politik maupun kepentingan lainnya.


Misalkan, dengan mudah mereka akan diatur kesana-sini untuk melakukan aksi demonstrasi. Jangan kalian kira aksi demonstrasi yang biasanya dilakukan mahasiswa murni membelah kepentingan rakyat. Akan tetapi, nyatanya di balik semua itu ada sisi gelap, mahasiswa biasanya digunakan sebagai alat kepentingan penguasa untuk menyerang pihak lain.


Logikanya dari mana dana untuk perlengkapan, kendaraan hingga konsumsi yang didapatkan mahasiswa ketika dikerahkan untuk melakukan aksi demonstrasi? Kalau bukan didanai oleh oknum tertentu, dari mana mahasiswa mau mendapatkan biaya untuk mengakomodir masa turun ke jalan? Walaupun memang ada pula aksi-aksi mahasiswa yang benar-benar untuk memperjuangkan hak masyarakat.


Akan tetapi kita tidak bisa lagi membedakan mana aksi yang murni mana aksi yang ditunggangi. Tak sampai disitu, biasanya organisasi ekstrakampus dipenuhi dengan kebohongan dan manipulatif. Urusan dana dan anggaran proposal oleh sebagian pihak dimainkan untuk masuk kantong pribadi. Jadi jangan kita salahkan apa yang terjadi oleh pejabat kita saat ini, karena nyatanya budaya korupsi seperti ini telah tumbuh subur dari dunia kampus ketika menjadi mahasiswa.


Selain itu ada yang lebih menjijikan, dengan membungkus jubah agama untuk mewakili nama organisasi eksternal mereka, akan tetapi akhlak dan moral mereka tidak mencerminkan orang yang beragama. Kebohongan, kebencian, manipulatif, dan lain sebagainya ditunjukkan terang-terangan. Seharusnya jika melabeli nama organisasi dengan agama, maka tindak tanduk yang dimiliki oleh para kader harus benar-benar mencerminkan orang beragama. 

Dengan moral dan etika yang baik, maka orang akan tahu kalau ini benar-benar organisasi yang mampu mendidik kadernya untuk menjadi manusia yang beragama serta berpilakau baik, bukan malah sebaliknya.


Salah satu contoh, misalnya saat musyawarah mahasiswa untuk pemilihan pimpinan baru di organisasi misalnya. Ada yang kemudian minta mengkorsing sidang dengan alasan untuk beribadah, tapi nyatanya izin untuk melakukan konsolidasi diluar ruangan. Atau mengumpulkan para kader untuk ibadah, tapi nyatanya membahas agenda politik selesai ibadah. Bahkan menjadikan tempat ibadah untuk mendoktrin para anggotanya.


Tak sampai disitu, persoalan rapat tidak tepat waktu, bicara hingga berlarut-larut tapi tak ada subtansinya hingga peroblematika lainnya yang membuat keberadaan organisasi ekstrakampus memiliki citra buruk dikalangan beberapa mahasiswa yang kemudian ogah bergabung.

Bagaimana Mahasiswa Menyikapi Hal Ini? 

Sebagai mahasiswa, kita seharusnya berusaha untuk menghindari hal-hal semacam ini. Tidak semua organisasi eksternal itu buruk, ada pula yang mampu meningkatkan kualitas anggotanya. Akan tetapi, segelintir oknum dalam organisasi ekstrakampus tersebutlah yang telah menghilangkan citra positif sehingga tugas kita adalah untuk mampu mengubah paradigma tersebut dengan menjadi kader yang mampu tegak lurus dengan pendirian tanpa harus terintervensi dengan siapapun.


Jika benar, lakukanlah. Jika salah, hindarilah. Jangan kemudian menjadi manusia yang gampang diatur-atur untuk melakukan hal-hal yang dapat merugikan orang lain. Jadikan organisasi eksternal untuk wadah perjuangan hak-hak masyarakat tanpa harus ditunggangi oleh kepentingan oknum-oknum pejabat.

 Jadikanlah organisasi eksternal untuk tempat berdialetika, membangun jiwa kepemimpinan, membangun jejaring, dan wawasan. Agar kelak di esok hari dapat menjadi pemimpin bangsa yang berkualitas.

Sudut Plambon
Sudut Plambon Media mahasiswa yang fokus membagikan artikel seputar dunia mahasiswa dan juga berita terkini

Posting Komentar untuk " Budak Senior dan Boneka Pejabat, Sisi Gelap Organisasi Eksternal Kampus"